JAKARTA, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus
Abadi mengatakan, saat ini Indonesia dalam keadaan mendesak untuk
mempunyai industri bahan baku obat.
Pasalnya, selama ini bahan baku obat yang beredar di Indonesia didapat dari impor.
"Saat diskusi dengan apoteker dan dokter, sangat urgent bagi
Indonesia untuk punya industri bahan baku obat," kata Tulus dalam rapat
dengar pendapat dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta,
Senin (26/9/2016).
Tulus menuturkan, sebagai negara khatulistiwa, Indonesia memiliki
berbagai macam bahan baku obat. Namun ternyata, selama 71 tahun
Indonesia merdeka, industri bahan baku obat belum kunjung tercapai.
"Yang kita punya industri tukang racik obat karena semuanya impor," ucap Tulus.
Tulus menyebutkan, selama ini Indonesia masih mengimpor bahan baku
dari China dan India. Padahal, kata dia, kedua negara itu memiliki
parameter yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia.
"Kenapa kita tidak bisa punya industri bahan baku obat. Ini patut
ditelusuri juga apakah ada mafia yang buat kita tetap impor bahan baku
obat," ujar Tulus.
Indonesia sempat dihebohkan dengan adanya kasus vaksin palsu yang
diketahui telah berjalan sejak tahun 2003. Tak sampai di situ, peredaran
obat palsu kembali membuat publik terkejut.
Wacana penguatan Badan Pengawas Obat dan Makanan mucul sebagai tanggapan untuk mempekuat pengawas obat dan makanan di lapangan.
Pasalnya, BPOM tidak memiliki kewenangan untuk menindak pelaku pemalsuan sehingga diharapakan pengawasan menjadi optimal.
No comments:
Post a Comment