
Chaerudin alias Bang Idin (60), menunjukkan senjata tajam bertulisakan
arab peninggalan Kerajaan Pasai yang ia temukan di Kali Pesanggrahan
beberapa tahun lalu, di rumahnya di kawasan Karang Tengah, Jakarta
Selatan, Selasa (19/7). Seperti yang tercatat dalam sejarah sejak abad
ke-8 Masehi, Kali Pesanggrahan menjadi jalur khusus perdagangan dan
jalur penguasa kala itu untuk mengontrol wilayah.
Ketika hutan di Indonesia terus
menyusut, mendapati oase kawasan hijau di perkotaan merupakan sebuah
anugerah tak ternilai. Apalagi kalau kawasan hijau itu berada di
Jakarta, yang warganya saban hari menghadapi kepadatan kota dan
kemacetan lalu lintas.
Karena itu, tak perlu terus menyalahkan
pemerintahan masa lalu yang kini membuat kita kurang beruntung dalam
mempertahankan keseimbangan alam. Mari menemui orang-orang yang dengan
kesadarannya sendiri merawat lingkungan sekitar dan berharap virus
kebaikan pun menular.
Ditemui di rumah panggungnya yang terbuat
dari kayu dan bambu di tengah Hutan Kota Pesanggrahan di Karang Tengah,
Lebak Bulus, Jakarta Selatan, akhir Juli lalu, Chaerudin (59) sudah
sekitar 30 tahun berjuang menghijaukan sempadan kali. Ia nyaris
sendirian, merampas jengkal demi jengkal lahan di bantar Kali
Pesanggrahan di sana. Merampas lahan yang menjadi timbunan sampah guna
dihutankan kembali.
Dari nyaris nol, kini luas hutan itu sekitar
130 hektar, dengan ratusan rumpun bambu dan ribuan pohon dari ratusan
jenis pohon buah dan kayu. Hutan tersebut terbuka dikunjungi untuk
wisata alam ataupun untuk penelitian sebagaimana yang dicita-citakan
laki-laki yang akrab disapa Bang Idin alias Babe. Dua penghargaan
Kalpataru diraihnya.
”Gue memang tinggal dan berusaha di sini.
Tapi gue enggak pernah mikir lahan hutan kota ini sebagai milik pribadi.
Gue menguasai lahan ini agar tetap menjadi hutan. Gue kelola sesuai
cara gue,” katanya.
Ia juga percaya diri. ”Gue enggak khawatir
masa depan hutan ini karena undang-undangnya jelas, lahan bantar sungai
adalah milik pemerintah, milik umum, tidak boleh milik pribadi,”
ujarnya.
Bang Idin dan keluarga besarnya lahir dan dibesarkan di
tepi Kali Pesanggrahan itu. Bang Idin muda pernah merantau ke Lampung
menjadi buruh serabutan. Di tanah Sumatera itu, dia mengenal alam liar,
yakni goa-goa di hutan Lampung. Babe pun pernah membantu sekelompok
pewarta asing dari majalah populer tentang bumi dan alam semesta.
”Gue tukang panggul kamera dan bantu cari jejak harimau sumatera,” katanya.
Keasyikannya
di ranah pulau seberang itu berakhir dengan sakit yang nyaris merenggut
maut. Babe pun kembali ke kampung halaman. Di kampung, ia geram. Sungai
tempat ia mandi dulu, yang airnya jernih, menjadi banyak sampah di
kanan-kiri bantaran dan aliran sungainya. Jadilah Babe si pemulung
memilah sampah yang bisa dibersihkan dan dijual, sisanya dibakar.
Ia
juga mulai memusatkan lokasi pembuangan sampah warga dan menanami
bantaran dengan pepohonan. Sepetak demi sepetak bantar sungai itu
dikuasainya. Untuk menghidupi keluarga dan kelompok warga pendukungnya,
ia mengelola kebun sayur, buah, kolam ikan, dan mengembangkan
pengelolaan sampah.
Tindakannya berbuah baik, warga setempat yang
dulu menolak akhirnya bisa dirangkul. Dukungan pun mengalir dari banyak
pihak, termasuk pemerintah.
Bahasa alamPengabdian
terhadap kelestarian Kali Pesanggrahan juga ditunjukkan Mardi
Siswinarko (53) alias Singo. Lelaki asal Malang, Jawa Timur, itu
tergerak hatinya merawat bantaran Kali Pesanggrahan di wilayah Cinere,
Kota Depok, selama belasan tahun.
Bersama beberapa teman, Singo
mendirikan Komunitas Pencinta Kali Pesanggrahan (Komppas) pada 2008 di
bawah asuhan Babe. Meskipun Komppas hanya beranggotakan segelintir
orang, Singo tak terlalu khawatir. Bahkan, dia kerap bergerak sendiri
menyusuri badan sungai berbekal golok dan pelampung.
Sampah,
terutama sampah plastik, kayu, dan beragam limbah rumah tangga lain yang
dia temukan di bantaran ataupun badan sungai dikumpulkan kemudian
dibakar. ”Kalau hanya dipinggirkan di tepi sungai, nanti hanyut lagi
sampahnya,” ucap Singo.
Dia tidak akan segan menegur, bahkan
mengajak berkelahi orang yang membuang sampah sembarangan ke kali. Tanpa
basa-basi, Singo menyebut tindakan itu sebagai kejahatan, bahkan pantas
dihukum mati. ”Makanya, saya tidak tenang kalau meninggalkan kali
terlalu lama. Nanti ada saja yang buang sampah sembarangan,” kata Singo.
”Saya
percaya, kalau kita baik dengan alam, alam juga akan berbuat baik pada
kita. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau saya sedang membersihkan
sungai, masak akan dihanyutkan juga oleh alam, he-he-he...,” ujar Singo
seraya berkelakar.
Singo tinggal di sebuah rumah sederhana dua
lantai di tepi Kali Pesanggrahan. Bertahun-tahun beraktivitas di sekitar
sungai, membuat Singo belajar cara membaca gejala alam. Misalnya saja,
jika dia melihat burung sriti yang biasa bersarang di bawah jembatan
Jalan Bandung perbatasan Cinere, Depok, dan Jakarta Selatan berkeliaran
di pohon menjelang gelap, biasanya debit sungai akan meningkat pada
malam harinya.
”Alam itu banyak memberikan kita pelajaran,” ujar Singo.
Meskipun
mungkin belum segigih Babe dan Singo, juga ada Amsori (65), pemrakarsa
Satgas Danau Cavalio yang juga Ketua RT 015 RW 001 Kelurahan
Pesanggrahan. Danau Cavalio buatan di tepi Pesanggrahan berdekatan
dengan kompleks makam Tanah Kusir.
”Awalnya, aliran kalinya
berbelok lalu disodet dan jadi danau ini. Danau ini ada mata airnya,
jadi tidak pernah kering. Air dari danau bisa mengalir ke kali karena
ada klep pintu. Tapi dari kali tidak bisa masuk ke danau,” katanya.
Wagino,
wakil RW 001 yang juga bendahara Satgas Danau Cavalio, menambahkan,
warga yang bergabung dalam satgas berupaya menjaga kebersihan dan
kelestarian lingkungan danau. ”Kami menanam dengan sukarela pohon-pohon
dan bunga-bunga yang ada di sini. Saya menyediakan karung-karung plastik
untuk warga atau pengunjung danau membuang sampah. Lalu, saya pribadi
mengupah tukang angkut sampah ke TPA,” katanya.
Optimalkan partisipasiNirwono
Joga, arsitek lanskap dan juga penggerak Peta Hijau, mengatakan, sungai
merupakan sumber kehidupan dan peradaban. Pengelolaan terhadap sungai
bisa menjadi tolok ukur kemajuan peradaban kota, sedangkan kondisi
sungai mencerminkan cara pandang warga dan pemerintah setempat terhadap
sungai di wilayah mereka.
Ironisnya, 13 sungai di Jakarta yang
seharusnya menjadi potensi luar biasa selama ini terabaikan. Saat Asia
Pacific Urban Forum (APUF) Ke-6 di Jakarta akhir 2015, Direktur Program
Studi Pembangunan University of the South Pacific di Fiji Profesor Vijay
Naidu berpendapat, salah satu cara membangun kota yang memanusiakan
manusia adalah dengan mengoptimalkan partisipasi warga. Aspirasi semua
warga diserap dan tidak ada yang merasa ditinggalkan.
Apa yang
disampaikan Vijay relevan dalam konteks pengelolaan sungai di Jakarta.
Saatnya pemerintah aktif merangkul para jawara lingkungan yang tanpa
pamrih itu untuk gerakan masif menata ulang Jakarta.