Pedagang menggelar dagangan di pasar yang terdapat di Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Senin (22/8). Di tempat itu, aktivitas pasar hanya terjadi pada setiap Senin. Pada hari lain pedagang menggelar dagangan di desa lain.
Duka tidak selalu mewarnai nasib tenaga kerja Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. Sebagian di antara mereka berhasil kembali ke Tanah Air dengan membawa sukses. Mereka bahkan ikut membangun daerah kelahiran.
Martinus (37) memarkir mobil miliknya di depan rumah toko (ruko) di kawasan perbelanjaan Kota Kupang. Di dekat pintu keluar ruko itu, istrinya, Santi (32), tengah sibuk melayani transaksi pembayaran. Ia dibantu tujuh karyawan untuk melayani calon pembeli di toko swalayan milik mereka, Omart.
Omart adalah buah sukses perjuangan Martinus setelah enam tahun merantau sebagai TKI di Malaysia. Pria kelahiran Pulau Rote itu memulai petualangan bekerja di perkebunan sawit di Kalimantan Timur tahun 1999, tiga bulan setelah lulus sekolah menengah kejuruan.
Tak kerasan, dua tahun kemudian, Martinus pindah ke perbatasan Entikong. Ia berdagang pakaian bekas. Namun, lagi-lagi tak sukses. Ia pun pindah ke Lahad Datu di Sabah, Malaysia. Selama tiga tahun Martinus bekerja kembali sebagai buruh perkebunan sawit. Upah yang diperolehnya Rp 3,5 juta per bulan.
Tahun 2006, ia memutuskan pulang kembali ke Kupang. Dengan sebagian tabungan yang dimiliki, ia menyewa satu rumah kosong berukuran 6 meter x 8 meter di Kelurahan Kuanino, Kota Kupang, dengan harga Rp 10 juta. Sisanya, Rp 6 juta, digunakan untuk modal awal berjualan bahan makanan dan kelontong. Salah satu ruangan dalam tempat itu sekaligus dimanfaatkan sebagai rumah tinggal keluarganya. Satu kamar mandi pun dibangun sederhana di belakang rumah.
Ketika usaha dagangnya mulai sukses, Martinus pindah ke tempat yang lebih besar. Ia menyewa dua kios di Pasar Kuanino seharga Rp 30 juta per tahun, juga untuk berjualan. Kios lama pun tetap digunakan untuk berdagang.
Setelah 10 tahun berdagang, ia memiliki sendiri satu ruko berlantai tiga di pusat perdagangan Kelurahan Merdeka. Aset itu bernilai Rp 1,5 miliar. "Kota Kupang terus berkembang. Jika kita memiliki tempat usaha yang strategis akan cukup menguntungkan," katanya.
Kunci suksesnya adalah manajemen yang tertib dan disiplin. Transaksi usaha ditangani langsung istri. Usaha itu menawarkan barang dengan harga lebih murah dibandingkan toko lain. Itu sebabnya pembeli rela berjejalan melintasi lorong sempit dalam toko itu.
Ia meyakini, sukses seseorang bergantung pada diri orang itu. Jika ada kemauan, tekad baik, dan semangat kerja yang tinggi, setiap orang bisa sukses. Sebagai orang yang mencari modal usaha dengan menjadi TKI, Martinus sejak awal bertekad memanfaatkan upah yang didapat dengan sebaik-baiknya.
Namun, sebagian TKI kemudian memanfaatkan hasil jerih payah mereka untuk memenuhi urusan konsumtif semata. "Mereka cenderung tidak berpikir mengembangkan uang hasil jerih payah dari luar negeri untuk membangun usaha di tempat asal," kata Martinus.
Tak jauh dari kios Martinus, Susan Ndun (36) membangun usaha serupa. Dari hasil perantauannya di Malaysia, mantan TKI itu membeli satu kios berukuran 4 meter x 5 meter di pasar di Kelurahan Kuanino, Kota Kupang. Dari usahanya, Susan membiayai kuliah dua adiknya di kampus di Surabaya dan Denpasar. Salah satu di antaranya akan diwisuda pada September nanti.
Gadis Rote ini pertama kali menjadi pengurus rumah tangga di Kuala Lumpur tahun 2004. Dengan upah Rp 3 juta per bulan, Susan berhasil menabung Rp 25 juta dalam kurun 10 bulan. Uang itu langsung dikirimnya untuk membangun rumah orangtuanya di Pulau Rote.
"Tadinya atap rumah kami hanya dari daun lontar. Dinding pun dibangun dari pelepah lontar. Lantainya tanah. Rumah yang baru dibangun sekarang jauh lebih baik kondisinya," kata Susan.
Tidak semua
Cerita suram mengenai TKI asal NTT, menurut Susan, lebih bersifat kasuistik. Tidak semua TKI mendapatkan perlakuan buruk dari majikan. "Jika TKI terampil, majikan tidak akan banyak omong," katanya.
Menurut Susan, kalau calon pekerja tidak memiliki keterampilan memadai, majikan pasti akan kecewa. Padahal, mereka sudah bayar mahal kepada agen penyalur.
Kamilus Tupen, warga Desa Honihama, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, menjadi TKI tahun 1990-2001 di Malaysia. Selama itu, ia memanfaatkan waktu luang untuk belajar berorganisasi dan mengelola sumber daya alam. Tradisi di Flores Timur tentang gotong royong, yang dikenal dengan istilah gemohing, merupakan modal utama pemberdayaan masyarakat. Melalui gemohing, para petani, peternak, dan nelayan didorong mandiri menjaga ketahanan pangan, papan, dan sandang.
Tahun 2001, Tupen pulang kampung. Ia membangun pemahaman masyarakat desa. Sistem gemohing pun dijalankan di setiap kelompok masyarakat. Dalam waktu dua tahun, warga desa itu sukses membangun hidup keluarga yang lebih layak.
Kementerian Pertanian memberikan penghargaan Kusala Swadaya kepadanya di Jakarta, tahun 2014. Tupen terpilih sebagai duta praktik cerdas di bagian Indonesia timur.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT Bruno Kupok mengatakan, TKI legal yang berangkat dari daerahnya tahun 2011 sebanyak 23.000 orang. Namun, jumlah itu menurun menjadi 1.000 orang pada 2015. Hal itu terkait dengan moratorium pengiriman tenaga kerja sejak 2012.
"Ketika moratorium diberlakukan, justru jumlah tenaga kerja ilegal semakin membeludak, tetapi tidak ada data tentang itu. Hanya calo yang tahu," kata Bruno. Para calo memproses paspor calon pekerja di Kupang, Nunukan, dan Batam.
Melalui jalur resmi atau melalui calo, para TKI dari NTT dan dari seluruh daerah di Indonesia semua bercita-cita mulia. Mereka ingin hidupnya dan hidup keluarga menjadi lebih baik. Dengan menjadi TKI, mereka berharap dapat mengumpulkan modal untuk membuka usaha di Tanah Air. Menjadi tenaga kerja di luar negeri tentu membutuhkan keterampilan memadai pula. Ini tugas pemerintah.
No comments:
Post a Comment